POTENSI EPIDEMI DAN PANDEMI DARI VIRUS PERNAFASAN MANUSIA

September 2015

Virus pernafasan yang menyebabkan epidemi dan pandemi manusia telah terjadi sejak awal waktu. Banyak virus yang muncul berasal daripada haiwan ternakan dan juga ada berkaitan dengan kontak hewan-manusia. Mereka disebut dengan panggilan “zoonosis”. Ini telah terjadi melalui interaksi kompleks antara manusia dan haiwan. Modus penularan seringkali melalui rute pernafasan tetapi mungkin tidak selalu menunjukkan simtom yang jelas. Virus ini biasanya menyebabkan pasien menjadi tiba-tiba sakit, transmisi manusia dan manusia lainnya dengan begitu cepat dan mortalitas yang signifikan. Dengan demikian, virus yang baru dan novel ini biasanya menanamkan rasa takut yang meluas dianatara pasien. Selain kekhawatiran tentang morbiditas dan mortalitas, epidemi dan pandemi seperti ini juga dapat menjejas dampak ekonomi pada negara-negara yang terjejas. Misalnya SARS CoV pandemi yang dimulai pada tahun 2002, telah diperkirakan mengakibatkan biaya ekonomi antara USD 35-45 billion di negara-negara Asia dan Kanada. Antaranya, Singapura turut terjejas dan sekolah-sekolah di Singapura telah ditutup dan mengakibatkan banyak ekonominya terhenti. Baru-baru in, contoh yang lebih baru dari MERS CoV di Korea Selatan, tiada angka rasmi mengulaskan dampak ekonomi dari epidemi ini tetapi kemungkinan substansial. Hal ini telah mendorong pemerintah Korea Selatan untuk mengadakan langkah-langkah tambahan sebagai cara untuk menanamkan kepercayaan untuk industri “tourism”.
Dalam artikel singkat ini, informasi terbaru tentang MERS CoV dan flu burung(avian) akan disorot.

Sindrom Virus Pernafasan Timur Tengah Corona (MERS CoV)

MERS CoV pertama kali dilaporkan di Arab Saudi pada bulan Juni 2012 dan kasus terus dilaporkan hingga September 2015. Virus ini mungkin telah beredar di Timur Tengah jauh lebih awal. Sebuah penyelidikan retrospektif dari wabah infeksi pernafasan dalam sebuah rumah sakit di Yordania yang terjadi pada bulan Februari 2012, mengidentifikasikan 2 kasus yang dikonfirmasi menghidap MERS CoV dan 11 kasus kemungkinan menghidapi virus itu. Dari catatan, sepuluh kasus kemungkinan tersebut adalah pekerja kesehatan.

Sehingga 18 September 2015, jumlah kasus seluruh dunia yang telah dikonfirmasi adalah 1564 dengan sekurang-kurangnya 551 kematian. Lebih dari 20 negara telah melaporkan telah terjangkiti oleh MERS CoV. Semua kasus berasal dari atau pernah ke Timur Tengah. Beberapa kasus “secondary” juga terjadi. Epidemi telah terjadi di Timur Tengah; 17 kasus baru dilaporkan dari Arab Saudi pada minggu kedua September iaitu dari 11hb ke 17hb September 2015.

Seperti yang dibincang sebelumnya, banyak kasus jangkitan melalui manusia ke manusia. Hal ini terbaik dicontohkan oleh wabah MERS CoV di Korea Selatan yang terjadi dari Mei hingga Juli 2015. Pasien indeks adalah seorang warga Korea yang telah melancong ke Timur Tengah dan kemudian mencari pengobatan di beberapa pusat medis di Korea Selatan ketika sedang sakit. Web transmisi dengan kasus “secondary” dan kasus “tertiary” telah mengakibatkan 186 kasus dan 36 kematian. Langkah-langkah ketat yang dilembagakan dan lebih dari 16,000 orang (termasuk pekerja perawatan kesehatan) yang dikarantina. Wabah ini tampaknya berakhir setelah tiada kasus baru dilaporka di Korea Selatan semenjak 4 Juli 2015.

Meskipun unta diduga menjadi sumber kemungkinan MERS CoV, rute transmisi yang tepat masih belum ditetapkan. Manajemen saat ini adalah untuk meningkatkan kesedaran MERS CoV dan mempertingkatkan pengendalian “infection control” yang ketat (walaupun sukar) ketika dihadapkan dengan kasus. Setiap salah langkah pengendalian infeksi tersebut akan mengakibatkan wabak virus itu dalam negeri.

Influenza Dan Flu (Avian) H7N9

Virus influenza ini amat biasa bagi kita semua. Virus penyebab epidemi tahunan dan strain influenza A dan virus B terus berada dikalangan masyarakat. Saran medis adalah untuk mendapatkan imunisasi influenza ini sekali setiap tahun kerana virus ini selalu berubah-ubah dengan kerap. Pandemi yang mengakibatkan jutaan kasus secara global terjadi kira-kira sekali setiap 20-30 tahun apabila adanya pergeseran protein yang signifikan terjadi pada sesuatu strain influenza. Pandemi terakhir pada tahun 2009 bermula dari Mexico adalah karena strain H1N1 yang menjalani “reassortment”. Virus ini masih berleluasa.

Virus Flu Burung Avian (AIV)

Ada banyak virus influenza yang menyebabkan infeksi pada burung dan ini disebut dengan sebutan virus flu burung. AIV ini mungkin dijangkiti burung migran liar dan unggas domestik. Burung-burung ini jarang menginfeksi manusia dan mamalia lainnya secara cepat. “Antigenic shift” terus menerus terjadi dan pergeseran dari AIV boleh mengakibatkan virus baru. Empat kasus terjadi dalam 100 tahun terakhir dan mengakibatkan pandemi. Influenza A H2N2 terjadi pada tahun 1957, H3N2 pada tahun 1968 dan H1N1 terjadi dua kali pada tahun 1918 dan 2009. AIV yang telah menerima perhatian yang besar dalam 10 tahun terakhir adalah H5N1 dan H7N9.

Avian Influenza A H5N1 

Pertama kali terjadi pada tahun 1996 dan 18 orang terjangkiti virus ini dengan 6 kematian. Virus terulang lagi pada tahun 2003 dan ia telah menjadi enzootik pada jumlah spesies burung di lokasi geografis yang luas. 784 kasus manusia dikonfirmasikan telah dilaporkan dari 16 negara dengan total 429 kematian. Tingkat kematian tetap tinggi pada 55%. Jumlah kasus manusia yang terjangkiti nampaknya telah menurun dalam beberapa tahun terakhir ini dan fokus baru-baru ini adalah strain H7N9.

Influenza H7N9 Avian 

Influenza A H7N9 Novel pertama dilaporkan telah menginfeksi manusia pada awal 2013. Dari Cina, virus ini telah tersebar dengan cepat dan melibatkan banyak provinsi lain di Cina dan negara-negara lainnya. Berbeda dengan H5N1, H7N9 tidak mengakibatkan kematian pada unggas domestik dan ini membuat “control” virus ini lebih sukar.

Sehingga September 2015, 677 kasus telah dilaporkan dengan angka kematian 36% dari golongan warga berusia 60 tahun kebawah dan kematian 59% dari pada mereka yang berusia 60 tahun ke atas. Kasus di negara lain semuanya telah dikaitkan dengan perjalanan ke Cina. “Cluster” AIV telah dilaporkan dan mungkin telah mengakibatkan paparan umum untuk virus tersebut boleh menyebabkan terbatasnya jangkitan manusia ke manusia. Meskipun jumlah kasus manusia telah menurun pada tahun 2015, kita harus tetap waspada terhadap H7N9. Pada saat ini, tidak ada vaksin yang tersedia secara komersial terhadap H7N9 influenza.

Sekali lagi, virus pernafasan baru yang telah menginfeksi manusia menjadi kejadian biasa yang telah dicatat dan virus baru tersebut akan tetap ada dalam tahun-tahun mendatang.